Penggalakkan Penanaman Pohon Bakau oleh Tanoto Scholars Association Medan (TSA)

Tanoto Scholars Association Medan (TSA) mendapat dukungan Tanoto Foundation anak perusahaan Sukanto Tanoto dan kembali lagi lakukan bina desa untuk yang ketiga kalinya, yakni di desa Bagan Kuala Kampung Kita, Sumatera Utara. Beda halnya dengan agenda bina desa seperti biasa, bina desa kali ini ternyata akan diisi dengan penanaman pohon bakau. Mengingat hutan bakau memiliki peran cukup penting sekali dan manfaat yang bisa dirasakan secara langsung atau pun tidak bagi lingkungan sekitar, khususnya bagi masyarakat pesisir. Misalnya saja untuk cegah terjadinya erosi, instrusi air laut, dan abrasi pantai, juga yang lainnya.

Tetapi demikian, hutan bakau kini tak luput dari masalah lingkungan, akibat dari pengelolaan yang cukup buruk, ekosistem hutan bakau di pesisir pantai kini terancam punah, sehingga yang demikian tersebut bisa percepat proses abrasi pantai, hingga garis pantai lebih cepat bergeser ke arah daratan. Nah, untuk mengurasi masalah tersebut, Tanoto Scholars Association Medan lakukan penanaman hutan bakau di desan Bagan Kuala yang letaknya ada di kawasan pesisir pantai.

Penggalakan Penanaman Pohon Bakau oleh Tanoto Scholars Association Medan (TSA)

Perlu kita ketahui bersama bahwa awalnya para scholars ini alami kendala saat mengambil bibit pohon bakau dari kawasan Percut, sebab lokasinya yang berada cukup jauh dari pusat kota, dan jalannya juga sedikit rusak serta berlumpur, sehingga butuh waktu cukup lama. Hal tersebut sebabkan scholars tiba lebih lama yakni pada malam hari. Sesampainya, sebagian para scholars lakukan pengecekan lokasi penanaman pohon bakau, lalu lakukan evaluasi dan rapat tentang sistematika penanaman pohon bakau.

Waktu paling tepat untuk menanam pohon bakau ini adalah saat pagi hari, sekitar pukul 7 pagi dan dimulai dari tepian pantai. Agar pohon bakaunya bisa tumbuh dengan baik, maka harus ditanam di tahan yang berlumpur di sekitar tepi pantai. Kedalaman lumpur sekitar 30 cm, yakni setinggi betis orang dewasa. Selain itu para scholars pun juga harus masuk ke dalam lumpur untuk menanam pohon bakaunya. Pada saat proses penanaman pohon bakau bukannya merasa kesulitan, justru memberikan keseruan bagi para scholars walaupun berlumpur dan harus kotor – kotoran.

Ditambahkan lagi ada banyak warga sekitar dan anak – anak yang turut membantu para scholars untuk menanam pohon bakau. Sehinga tak ada keletihan yang berarti selama proses penanaman pohon bakau berlangsung, melainkan keceriaan dan juga keseruan yang dirasakan para scholars serta warga setempat dan juga anak – anak. Dengan kerjasama yang baik, semangat, juga keinginan yang kuat akan menanam pohon bakau, hingga akhirnya bibit pohon bakau berhasil ditanam di sekitar tepian pantai bagan kuala. Para scholars pun mendapat pengalaman baru yang sangat menyenangkan sekali, juga bermanfaat bagi sekitar serta ekosistem lingkungan.

Diharap agar pohon bakau yang sudah ditanam tersebut tumbuh dengan baik dan bisa memberikan manfaat bagi ekosistem pantai. Ditambahkan lagi pohon bakau tersebut ditanam dengan hati yang tulus dan penuh harapan yang baik bagi para scholars serta warga setempat. Para scholars juga berharap agar kegiatan yang seperti ini bisa memberi kesadaran bagi warga setempat untuk selalu merawat serta menjaga ekosistem pohon bakau. Dan untuk kedepannya para scholars TSA Medan akan kembali lagi ke desa tersebut untuk lakukan bina desa dengan agenda yang berbeda pastinya.

(Visited 6 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *